Malam ini tak terdengar hujan seperti biasanya. Siluet
tentangmu masih berkelebat di otakku, mencoba menari – nari lantas hendak merobohkan
fokusku. Aku berusaha mematikanmu, namun tak pernah bisa. Ada sesuatu hentakan
yang masih berdetum hebat di dadaku. Namamu.
Kutangkis rasa sakitku dengan senyum. Kusapu air mata dengan
jemari – jemari halusku. Memori – memori tentangmu terus berputar seperti film
yang tak pernah habisnya berhenti. Film dalam otak sedang memainkan skenario
kita bulan April. Apakah kau ingat bagaimana skenario yang kita ciptakan?
“Salah siapa?”, tanyaku lirih. Membenamkan wajah ke meja.
Seolah berharap film – film tentangmu di otakku segera berakhir.
“Ini salahku. Dia tidak membuat kesalahan. Begitu pula kamu.”,
ucapmu.
Pintu kesempatan tertutuplah sudah. Kata terlambat kini
adalah milikku— seutuhnya.
Rasanya seperti terjatuh dari roler coaster. Luka. Sakit. Perih.
Tak terasa, setahun telah berlalu. Segalanya terasa cepat dan
mampat— tentu saja bagiku. Sadarkah
kamu? Terimakasih telah membuatku jatuh, namun saya bangkit, mencari celah
untuk melangkah diantara injakan – injakan kakimu yang merobohkan aku. Kamu tak
boleh melakukannya lagi.
Di April ini, entah
mana yang harus aku ekspresikan. Sedih karena “oksigen” yang selalu membuatku
bernapas lebih berarti itu telah lama menghilang, ataukah bahagia karena
“oksigen” tersebut harus menjadi tumpuan hidup orang lain— yang semoga saja
bisa menjadikannya lebih berarti. Dimanapun kamu berada, aku masih disini, tak
beranjak kemanapun. Aku berdiri di atas harapan, doa, dan keterabaian.
Hadirmu hanyalah
ilusi, tak pernah jadi nyata secara emosi. Logikaku terhalang perasaan yang tak
bisa kukontrol rapi seperti apa yang sering kaucontohkan.
30 hari ke depan di
bulan ini, aku berharap bisa melewatinya walaupun itu tanpamu. Aku memang manja
karena terlalu bergantung padamu. Namun, kali ini aku akan membiasakannya.
Merubah sikapku— yang meskipun aku tahu hal tersebut tak akan pernah kaupedulikan
kembali.
“Sadar akan
ketidakmampuanku untuk menyentuh sekaligus memelukmu secara riil, maka aku akan
memelukmu dengan doa.”, ucapku lirih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar