Minggu, 14 April 2013

April Ini (Dengan) Tanpamu

Malam ini tak terdengar hujan seperti biasanya. Siluet tentangmu masih berkelebat di otakku, mencoba menari – nari lantas hendak merobohkan fokusku. Aku berusaha mematikanmu, namun tak pernah bisa. Ada sesuatu hentakan yang masih berdetum hebat di dadaku. Namamu.

Kutangkis rasa sakitku dengan senyum. Kusapu air mata dengan jemari – jemari halusku. Memori – memori tentangmu terus berputar seperti film yang tak pernah habisnya berhenti. Film dalam otak sedang memainkan skenario kita bulan April. Apakah kau ingat bagaimana skenario yang kita ciptakan?
“Salah siapa?”, tanyaku lirih. Membenamkan wajah ke meja. Seolah berharap film – film tentangmu di otakku segera berakhir.

“Ini salahku. Dia tidak membuat kesalahan. Begitu pula kamu.”, ucapmu.
Pintu kesempatan tertutuplah sudah. Kata terlambat kini adalah milikku seutuhnya. Rasanya seperti terjatuh dari roler coaster. Luka. Sakit. Perih.

Tak terasa, setahun telah berlalu. Segalanya terasa cepat dan mampat— tentu saja bagiku. Sadarkah kamu? Terimakasih telah membuatku jatuh, namun saya bangkit, mencari celah untuk melangkah diantara injakan – injakan kakimu yang merobohkan aku. Kamu tak boleh melakukannya lagi.

Di April ini, entah mana yang harus aku ekspresikan. Sedih karena “oksigen” yang selalu membuatku bernapas lebih berarti itu telah lama menghilang, ataukah bahagia karena “oksigen” tersebut harus menjadi tumpuan hidup orang lain— yang semoga saja bisa menjadikannya lebih berarti. Dimanapun kamu berada, aku masih disini, tak beranjak kemanapun. Aku berdiri di atas harapan, doa, dan keterabaian.

Hadirmu hanyalah ilusi, tak pernah jadi nyata secara emosi. Logikaku terhalang perasaan yang tak bisa kukontrol rapi seperti apa yang sering kaucontohkan.
30 hari ke depan di bulan ini, aku berharap bisa melewatinya walaupun itu tanpamu. Aku memang manja karena terlalu bergantung padamu. Namun, kali ini aku akan membiasakannya. Merubah sikapku— yang meskipun aku tahu hal tersebut tak akan pernah kaupedulikan kembali.

“Sadar akan ketidakmampuanku untuk menyentuh sekaligus memelukmu secara riil, maka aku akan memelukmu dengan doa.”, ucapku lirih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar